Tuesday, 2 September 2014

Remember to survive

Mengingatnya



Mendung. Tengadah kepalaku ke atas langit, menoleh ke sisi kanan kiri jalan, banyak sekali orang berjualan hari ini dan mendengar teriakan anak kecil berlarian, “Awas Jatuh, enakan main sama kakak. Sini Sini!” teriakku, mereka hanya mengejekku lalu tertawa dan berlarian lagi. Aku hanya tersenyum sembari menikmati mendung sore di depan rumah.
Tapi tidak untuk hari ini, komputer itu mengerjap - ngerjap, menungguku dengan tidak sabar dan memelototiku. Aku terpojok disudut rumah, mengintip sesekali kemudian aku tertunduk ke bawah, aku benar – benar takut, aku hanya seorang diri disini, tidak aka nada yang menolongku jika aku terkapar pingsan. “Tuhan . . . bisa tidak kau menguatkanku untuk mendekatinya ? Tolong aku . . .” ratapku dalam hati. Pelan tapi pasti kuberanikan diriku untuk mendekatinya. Tepat didepan layar komputer itu, ku dekapkan tangan didada dan berdoa “Tuhan . . . aku mohon, jangan biarkan komputer ini membuatku kecewa”
Ku tekan tombol enter dengan cepat. Ku tutup mataku, ku buka perlahan
Mohon maaf, peserta atas nama ARBA’AH ZIVA KIREI dinyatakan TIDAK DITERIMA pada SNMPTN 2012 Jalur Ujian Tertulis . . .” tulisan itu terpampang di screen ukuran tanggung ini. Aku menangis, kenapa aku tidak bisa lolos. aku hanya bisa menghabiskan uang orang tua, aku tak bisa membanggakan mereka. Aku tak mengingat-Nya lagi.
Ku usap air mataku sambil tersedu sedu, ku tekatkan untuk mengambil telepon genggamku. “Tuut . . . Tuut . . . Iya adek ?” sapa ibuku. “Bu, Aa ak aku ga lolos.” Aku tidak dapat menahan air mataku, ku ulang terus kata – kataku “Aku ga lolos, bu. Aku ga lolos di semua jurusan. Aku ga lolos. Maafin aku . . . Maafin aku, ibu”. Ibu ku hanya terdiam mendengarku berkata tanpa henti, kata kata yang sangat membuatnya kecewa. “Eemm . Iya sudah, yang penting adek udah berusaha. Yak an ? Sudah jangan nangis, di terima ya. Inget kan setidaknya kita semua sudah berusaha”. Aku tetap menangis dan haru merasakan betapa beruntungnya aku memiliki Ibu seperti ini. Aku hanya menjawab “Iya, Bu.”. Tersisa sedikit isak tangisku hingga ku tutup telepon itu.
~Beberapa hari kemudian~
Ayah . . . aku pulang!”
Dari mana, dek ? kok masih pakai seragam, kan udah lulus.”
Anu. Baru selesai urusin Ijazah, yah. Ibu kemana ?”
Di dalam. Eh iya, ibu mau ngomong sesuatu sama kamu, samperin gih!”
Oke deh.”
Beberapa hari setelah tangisku itu, aku merasa semua sudah kembali seperti semula. Ibu, Ayah kecuali hatiku. Aku sering sekali termenung, bertanya pada diriku sendiri dimana aku harus bersekolah, aku tau masih banyak peluang di Diploma, tapi seharusnya aku berada di Sarjana.
Hai, bu. Kata Ayah, Ibu ingin bicara denganku. Ada apa ?”
Di ITS uda dicari peluangnya ? Tadi kata teman ibu, di UNAIR juga masi dibuka jalur 3, tapi ya diploma. Mau coba ?”
Tapi aku tidak terlalu berminat disana. Aku ingin masuk ITS saja, bu.”
Dek, adek kan kemarin sudah gagal, kenapa tidak hanya sekadar mencoba, siapa tau keberuntungannya ada salah satu di antaranya. Kamu ingin masuk Universitas Negri kan? UNAIR kan bagus”


Aku terdiam, aku berfikir, sekarang sudah bukan saatnya minat atau tidaknya, yang penting negri. Bener juga kata ibu, UNAIR di pandang bagus disini. Aku ingin masuk negri, aku harus belajar lebih giat dan kenapa tidak les privat saja
Ibu . . . boleh ikut les privat ? Guru SMK ada yang bersedia loh”
Eemm. boleh deh. Seminggu 3 kali aja ya”
Hehehe . . . iya deh. Guruku juga bersedia dibayar sukarela, bu . . .”
2 minggu sebelum hari tes Diploma ITS dan UNAIR, aku belajar dengan sungguh – sungguh, aku merasa sangat nyaman karena mendapat les privat khusus dan tidak munafik, aku semakin percaya diri. Semoga ini akan jadi kejutan yang meriah untukku.
Sudah 1 minggu berturut – turut aku menjalani tes, kali ini rasanya sudah jauh lebih baik karena telah melepas beban. Dan hari yang aku tunggu – tunggu pun tiba. Aku cari laman Universitas ITS, ku masukkan nama dan nomor pesertaku. Kurang dari 5 detik, telah muncul laman kegagalanku di Diploma ITS. Waw . . . cukup terhenyak karena aku sadar di mana IQ ku berada dan jauh di bawah mereka. Hati ini masih sakit karena ITS adalah Universitas impianku.
Aku sudah kebal. Aku tidak takut jika gagal di Diploma UNAIR, aku tidak peduli karena UNAIR bukan prioritasku. Tidak ubahnya ramalanku, aku gagal di sini dan aku tahu kenapa. Siapa yang tak bisa seperti mereka! Sekali lagi. Sekali lagi. 3 kali sudah aku mengecewakan Ibu dan Ayahku.


Di ruang santai, aku dan Ibuku merebahkan badan sejenak, di tempat ini juga kami terbiasa bercerita, tentang apa saja.
Adek . . . terus rencanamu apa setelah ini ?”
Tidak Tahu. Menurut Ibu gimana ?”
Ibu juga bingung. Ibu kan masih awam yang namanya kuliah. Kan adek juga yang mau kuliah bukan Ibu.”
Erghemb..” pura pura berdeham “Aku sadar diri kalau otakku mungkin di bawah standar pesaing Sarjana ITS, Begitu sadarnya sekarang aku sudah tidak memikirkan kegagalanku lagi. Tapi saat aku tidak lolos Diploma ITS, aku baru mengerti level orang seperti aku memang tidak layak duduk di bangku itu. Aku sudah percaya diri saat itu, soal yang aku jawab pun tidak terlalu susah. Tapi begini hasilnya. Aku juga bingung, sangat amat merasa . . ya begitullah.” Air mataku terus menetes saat mengatakannya, tak jauh beda dengan ibuku yang bulir air matanya pun ikut luruh.
Dek . . . Tuhan tidak pernah tidur, Dia yang telah merencanakan semuanya menjadi seperti ini. Mungkin kita harusnya mengoreksi diri. It’s Oke kita sudah usaha untuk les ini itu, beli buku ini itu, keluar uang banyak. Tapi mungkin kita lupa kepada-Nya, usaha kepada-Nya, meminta kepada-Nya dan beribadah yang berlebih karena kita menginginkan sesuatu yang ingin di kabulkan. Adek pernah berpikir seperti itu ? Jangan lupa, karena semua keputusan yang di buat berasal dari Dirinya.”
Isakku semakin keras terdengar. Aku sadar, aku jarang sekali beribadah kepada-Nya, memohon ampun dan bersungguh – sungguh berucap keinginan. Aku telah menyekutukannya dengan ilmu dari orang – orang yang akhirnya membuatku sombong dan angkuh. ‘Ampuni aku, Ya Tuhan, aku hambamu yang tidak tahu bersyukur’.
Iya, Bu. Aku tau. Untuk tahun ini, aku tidak berencana mencari Universitas Swasta. Aku ingin berjuang lagi tahun depan. Doain aku ya, bu !?”
Apa yang tidak untuk anakku tercinta”


Selang beberapa hari setelah perbincangan ku dengan Ibu dan tobatku dengan-Nya. Aku menjalani hari dengan lapang dada. Hingga pada siang itu, tak tanggung tanggung Ibu dan Ayahku memanggilku langsung. Ada surat dari Pak Pos pagi ini, pelan – pelan mereka memberitahukan bahwa aku mendapat Surat Undangan Diploma 1 ITS yang di layangkan didepan mataku. Tercatat namaku sana, tepat dan tidak ada kesalahan penulisan cetak. Aku menangis bahagia,. Ibu dan Ayahku memelukku, Ibu ku berucap “Ibu turut bahagia, jika kamu bahagia, nak!” sambil mengusap air matanya.
Tak ingin melewatkannya, aku segera mendaftar ulang.
Dalam lubuk hatiku, “Inilah secuil jawaban Tuhan yang diberikan padaku, jika aku mengingat-Nya dan sadar bahwa Dial lah segalanya dalam hidupku. Terimakasih Tuhan. Terimakasih!”

Selesai
 by @aiyu_putri

No comments:

Post a Comment